Berita Alumni

Pesantren Riset Adzkia, Kontribusi Alumni untuk Dunia Riset Eksyar

No comments

Dunia pesantren identik dengan pendalaman ilmu agama, Qur’an dan akhlaq. Namun konsentrasi implementasi nilai-nilai ilmu tersebut masih banyak yang bias, sehingga dikembalikan pelaksanaan nya kepada santri masing-masing. Berbeda dengan pesantren lainnya, Pesantren / Asrama yang yang terletak di Griya Alam Sentul, Bogor bernama Pesantren Riset Al Adzkia, memfokuskan pada penguasaan riset bagi para santri di pesantren tersebut. Terdiri dari berbagai mahasiswa berasal dari berbagai kampus, Pesantren Riset Al Adzkia hadir mencetak kader peneliti, khususnya dalam bidang Ekonomi Syariah.

Pesantren Riset Al Adzkia adalah upaya dari senior peneliti Ekonomi Syariah yang digawangi oleh Bapak Aam Selamet Rusydiana, M.Ec. alumni angkatan 4 IAI Tazkia dan juga Direktur Smart Indonesia, untuk membentuk generasi muslim yang memiliki kompetensi dalam dunia kepenulisan & riset. Dengan minimal menjalani kehidupan asrama 1 tahun, diharapkan mahasiswa terbiasa dengan berbagai kebiasaan pelatihan kepenulisan serta riset berbagai isu-isu ekonomi syariah yang terus berkembang. Memiliki visi mencetak muslim intelektual, berprestasi dan berakhlak mulia, pesantren riset ini telah membuktikan berbagai hasil yang memuaskan dari kader mahasiswa peneliti yang telah ikut berkecimpung sebelum pesantren riset ini berdiri. Tidak sedikit dari mereka yang telah tembus jurnal internasional mengungguli rekan seangkatan bahkan dosen mereka.  Untuk mewujudkan visi tersebut, suasana diskusi, pengajaran, dan pelatihan terus di rutinkan di asrama pesantren riset ini sebagai program rutin mereka selepas menjalani perkuliahan di malam hari. Merujuk kepada berbagai penelitian ilmiah dalam dan luar negeri, kompetensi Mahasantri Pesantren riset ini diasah agar terbiasa menganalisa serta menarik kesimpulan juga menuangkan dalam karya tulis ilmiah yang mumpuni. Sebagai bentuk tanggung jawab ke masyarakat, serta persiapan terjun di masyarakat, pengabdian masyarakat dan penanaman Al Akhlaq Al Karimah pun rutin diadakan dan ditanamkan agar para santri memiliki bekal serta pengalaman yang berharga selepas menyelesaikan studi di pesantren riset ini.

Pesantren riset ini adalah salah satu persembahan alumni IAI Tazkia dengan dukungan berbagai pihak untuk terus menghadirkan para pakar yang memberi manfaat dalam dunia riset Ekonomi Syariah khususnya dan masyarakat umumnya. Dengan adanya pesantren riset ini, diharapkan muncul berbagai pesantren, khususnya yang mengakomodir mahasiswa untuk mendalami kompetensi tambahannya, selain dunia perkuliahan yang dijalani sehari-hari nya, sehingga mahasiswa yang juga menjadi santri akan memiliki pribadi yang terjaga serta kompetensi real yang dibutuhkan di masyarakat selanjutnya.

Info lebih lanjut dapat mengunjungi : https://adzkiapesantrenriset.com/

RizqiPesantren Riset Adzkia, Kontribusi Alumni untuk Dunia Riset Eksyar
read more

Andil Alumni Tazkia dalam Terwujudnya Gedung Halal Dr. M. Yasid

No comments

Sentul City, 12 Mei 2022 / 11 Syawal 1443. Institut Agama Islam Tazkia, Bank Indonesia, dan Masjid Andalusia meresmikan Gedung Pusat Halal terletak di sisi depan lingkungan masjid dan kampus Tazkia. Gedung tersebut diberi nama Gedung Pusat Halal Dr. M. Yasid. Nama tersebut diambil dari salah satu pendiri Tazkia Al Marhum Dr. Mukhamad Yasid yang telah berkontribusi lebih dari 22 tahun di Tazkia dan terealisasi nya kerjasama Bank Indonesia dengan IAI Tazkia untuk penyediaan gedung ini.

Selain beliau, berbagai pihak Tazkia Mulai dari Rektor, LPPM, Hingga pusat studi Halal ikut berperan besar dalam mewujudkan berbagai pendampingan sertifikasi halal bagi berbagai UMKM. Alumni Tazkia pun berperan besar dengan adanya Bapak Nurizal Ismail, MA selaku Direktur LPPM dan Yusuf Ibrahim selaku Sekretaris LPPM yang tiada hentinya bersama Dr. Indra dan tim selaku Ketua Pusat Studi Halal yang melakukan berbagai pendampingan dan pelaporan perkembangan pelaksanaan pendampingan sertifikasi halal sehingga mendapatkan apresiasi dari Bank Indonesia dan BPOM MUI atas upaya yang telah dilaksanakan. Dikarenakan kesungguhan tersebut, kerjasama lanjutan untuk pembangunan kantor pusat studi Halal dan rumah jagal halal sedang dipersiapkan sebagai langkah apresiasi pihak Bank Indonesia.

Tidak hanya di LPPM, Alumni IAI Tazkia yang berada di lingkaran kampus Tazkia juga telah mewarnai berbagai kebijakan kampus untuk terus memberikan manfaat besar tidak hanya untuk almamater tercinta, tapi juga ikatan alumni Tazkia. Diantaranya pendekatan dengan alumni pasca yang telah memberikan arahan dan masukan untuk pengembangan Organisasi Alumni yang lebih baik selanjutnya. Sehingga manfaat yang dirasakan akan semakin besar dampaknya bagi alumni dan masyarakat yang banyak membutuhkan solusi praktis Ekonomi Islam dari para Ahli, diantara nya Alumni IAI Tazkia

RizqiAndil Alumni Tazkia dalam Terwujudnya Gedung Halal Dr. M. Yasid
read more

Perkaya Khazanah Zakat, Alumni Terbitkan Buku Zakat

No comments

Zakat, Infaq, Waqaf dan Sedekah adalah bagian dari Instrumen Keuangan Sosial Islam yang telah lama dikenal namanya oleh banyak muslim. Namun tidak sedikit, di antara muslim yang masih belum sepenuhnya memahami akan detail pelaksana instrumen tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga muncul berbagai pertanyaan yang terkesan sederhana tapi fatal jika diamalkan tanpa ilmu. Bolehkah zakat kepada orangtua? Amil seperti apa yang sebenarnya boleh mengambil harta zakat? Bagaimana zakat barang dagangan para pengusaha? Apakah boleh zakat fitrah dengan uang? Bagaimana ukurannya? Serta banyak pertanyaan lain yang muncul baru tentang seputar zakat, belum termasuk infaq, Waqaf dan Sedekah.

Karenanya, Ketua Komisi Fatwa MUI Surabaya, sekaligus salah Alumni terbaik Tazkia ikut andil dalam menjawab permasalahan umat ini. Melalui Buku “Pengantar Lengkap Zakat Kontemporer : Fiqih Empat Madzhab, Pengelolaan dan Kajian Sosial Ekonomi”, Kk Wahid merangkum berbagai hal penting yang perlu di ketahui masyarakat tentang zakat di masa Kontemporer saat ini. Sehingga masyarakat dapat memahami dengan baik dan menjalankan kewajiban zakat dalam kehidupan menuju Islam yang kaffah.

Pengantar buku tersebut juga menjelaskan betapa besar peran buku ini untuk literasi masyarakat modern akan pentingnya pelaksanaan zakat sesuai ilmu yang harus dijalankan.

“Saya sangat senang sekali menyambut terbitnya buku “Pengantar Lengkap Zakat Kontemporer” ini. Buku ini telah menyuguhkan pembahasan komprehensif terkait ketentuan zakat baik yang klasik maupun kontemporer dengan dilengkapi contoh praktis perhitungannya. Dalam setiap pembahasannya pun selalu dilengkapi tabel yang berisi kesimpulan dari pembahasan yang ada sehingga bisa memudahkan para pembaca dalam memahami setiap tema. Selain itu yang menjadikan buku ini menarik adalah adanya pembahasan terkait pengelolaan zakat yang baik dan benar serta kajian aspek sosial dan ekonomi dari zakat” (KH. Miftahul Akhyar, Ketua Umum MUI Pusat dan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)

Demikian ungkap beliau menunjukkan betapa besar manfaat dari buku ini. Dengan adanya buku ini, Tazkia semakin bangga memiliki alumni yang benar-benar mendedikasikan kehidupan nya untuk kebermanfaatan di masyarakat khususnya dalam bidang Ekonomi Islam yang menjadi core dari ilmu yang didapat dari Institut Agama Islam Tazkia. Bagi pembaca yang berkenaan untuk memiliki buku tersebut, silahkan menghubungi kontak ( +6287818453581 ).

RizqiPerkaya Khazanah Zakat, Alumni Terbitkan Buku Zakat
read more

The Green Queen Nana Firman yang Rajin

No comments

Oleh :
Akmal Nasery Basral (Sosiolog, Penulis, Alumni Pasca Tazkia)

SOSOK perempuan Indonesia yang namanya berkibar di dunia internasional semakin banyak dari tahun ke tahun. Salah satunya adalah Nana Fitriana Firman, 51 tahun, salah seorang pendiri Global Muslim Climate Network dan Senior Ambassador di GreenFaith, organisasi jejaring lintas agama untuk pelestarian lingkungan hidup dan penanggulangan krisis iklim. Perempuan berdarah Minang ini bermukim di Riverside, California, sejak 2012, bersama suaminya Jamal Yusuf Ali, seorang veteran marinir Amerika Serikat.

Ketika saya hubungi dua hari lalu untuk topik SKEMA [Sketsa Ramadhan] hari ini–bertepatan dengan Hari Kartini—Nana bilang sedang sibuk sampai weekend. “Muslim, nonmuslim, semua requests. Jadwal saya padat sekali karena Hari Bumi—jatuh pada Jumat, 22 April, besok—jadi banyak sesi back to back. Plus harus menyiapkan materi,” katanya sembari menginformasikan sedang bersiap-siap menjadi pembicara di Santa Clara University, sebuah kampus swasta Katolik. Topik yang dikulik “Spirit Moving: Interfaith Panel on Climate Action” dengan panelis selain dirinya (perspektif Islam) adalah Michal Strutin (Yahudi) dan Anna Robertson (Katolik).

Penerima penghargaan Alfredo Sirkis Memorial Green Award (2020) dari mantan Wakil Presiden AS Al Gore dan White House Champion of Change (2015) yang diberikan langsung oleh Presiden Barack Obama di Gedung Putih ini memang sudah kepincut mendalami lingkungan hidup sejak kecil. “Saya anak perempuan hutan ( daughter of the forest) dan percaya bahwa masa depan hutan sangat menentukan masa depan bumi kita,” kata Nana mengenang kelahiran di Jambi dan masa kecil yang dihabiskannya di lingkungan hijau asri.

Setelah itu keluarganya pindah ke Jakarta, kota di mana Nana merasakan kekaguman dan keprihatinan berbaur jadi satu. “Arah pembangunan Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia mencemaskan karena kurang mempertimbangkan aspek lingkungan dengan sungguh-sungguh,” katanya. Maka lulus SMA dia putuskan menimba ilmu bidang Industrial Design (Desain Industri) di Universitas Bridgeport, Connecticut, dan melanjutkan S2 bidang Urban Design (Desain Perkotaan) di Pratt Institute, New York.

“Ketika terjadi tsunami Aceh dan Nias pada 2004 saya diberi kesempatan oleh lembaga konservasi terbesar di dunia yakni WWF ( World Wildlife Fund) untuk memimpin Rekonstruksi Hijau selama masa pemulihan pasca bencana,” katanya. Nana dan tim mengembangkan inisiatif adaptasi dan mitigasi iklim.

“Kondisi di Aceh pasca tsunami sangat parah. Sekitar 500.000 penduduk kehilangan rumah. Semua ingin punya rumah secepatnya dan program pemulihan dikebut. Tapi pembangunan rumah membutuhkan kayu dari hutan. Tugas saya untuk menjaga agar kebutuhan besar itu tidak mengganggu keseimbangan ekologis dan lingkungan tidak terganggu,” lanjutnya. Untuk itu Nana pun melibatkan para pemuka agama Islam setempat dalam membuat rencana ketahanan ( resilience ) iklim dan lingkungan.

Rekonstruksi Hijau membuat Nana tak hanya menggunakan referensi lingkungan hidup berdasarkan khazanah literatur Barat yang selama ini digelutinya, melainkan juga menyelami samudera ajaran agama Islam, khususnya fiqh bi’ah (fikih lingkungan hidup) sebagai inspirasi.

Program Rekonstruksi Hijau mendapat pujian dan pengakuan dunia internasional sehingga diduplikasi oleh Pemerintah Pakistan dan Haiti saat kedua negara mengalami gempa besar masing-masing pada tahun 2008 dan 2010.

Selesai kerja di Aceh, Nana mengkonsentrasikan diri untuk menyampaikan pandangan Islam tentang pada beragam fora internasional baik di Amerika Serikat atau di luar AS. Nana terlibat aktif dalam program Green Masjid (Masjid Ramah Lingkungan) yang diinisiasi Islamic Society of North America (ISNA), organisasi induk yang memayungi organisasi-organisasi Islam di AS dan Kanada.

Dia juga menjadi pembicara di TEDX Nantes (Prancis), Januari 2013. Salah satu poin yang disampaikannya adalah, “Saya menyadari setelah berkiprah beberapa tahun di bidang ini ternyata saya mempraktikkan keimanan saya. Saya selalu percaya bahwa kita umat manusia adalah para penjaga kelestarian bumi. Maka umat beragama harus bekerja sama secara harmonis,” ujar salah seorang Ketua Muhammadiyah cabang USA ini.

Tahun 2015 Nana ikut mengorganisiri Deklarasi Islam tentang Perubahan Iklim Global di Istanbul, Turki. Deklarasi itu menyatakan 1,6 miliar umat Islam—saat itu—turut memikul tanggung jawab menghadapi perubahan iklim. “Saya merasakan bahwa kaum muslimin kurang menjadi duta lingkungan dari ajaran Islam. As Muslims we don’t do a good to be examples & leading the green movement padahal Rasulullah Saw the greenest person on earth,” katanya.

Nana melihat masih banyak kaum muslimin yang mubazir dalam penggunaan air. “Padahal Rasulullah sudah mengingatkan kepada Sahabat bahwa berwudhu di air mengalir seperti sungai pun tidak boleh menghambur-hamburkan air,” katanya. Belum lagi mubazir di bidang makanan ( food waste ) dan tingkat kebersihan yang rendah akibat kebiasaan buang sampah yang masih sembarangan. “Ini beberapa PR umat Islam di tingkat individual dan komunitas.”

Sementara di tingkat negara—terutama untuk negara-negara muslim kaya raya dari BBM fosil—yang sering tidak peduli pada peningkatan emisi gas, Nana selalu mengampanyekan pentingnya enerji terbarukan menjelang pertengahan abad ke-21. “Negara-negara kaya juga punya kewajiban moral meningkatkan bantuan keuangan kepada negara-negara miskin yang rentan menghadapi perubahan iklim,” ujarnya. Salah satu indikator kerentanan itu adalah seringnya longsor, banjir, gagal panen, dan memburuknya kualitas lingkungan hidup.

Hasil dari Deklarasi Istanbul adalah berdirinya Global Muslim Climate Network. Peresmian GMCN berlangsung di Markas Besar PBB di depan Presiden Sidang Umum, Mogens Lykketoff. “Islam mengajarkan kita bahwa manusia hanyalah seorang penatalayan ( steward) yang memegang apapun yang ada di bumi sebagai amanah,” ujar Nana Firman sebagai _Co-Chair_ GMCN yang juga menyebut dirinya sebagai aktivis jejak karbon ( footprint carbon activist).

Nana pun memegang jabatan penting sebagai Direktur Urusan Muslim dan Duta Besar Senior ( Senior Ambassador) di GreenFaith, sebuah gerakan lingkungan dan iklim yang bersifat lintas iman lintas keyakinan, berkantor pusat di New York City. Di lembaga ini Nana menemukan mitra berbagai tokoh dan aktivitis lintas agama. “Saya melihat bahwa semua agama itu punya kepedulian terhadap lingkungan, terhadap bumi yang kita tempati bersama. Sehingga program-program yang mempertemukan komunitas-komunitas antaragama untuk lingkungan harus lebih dipersering dan kualitas program bersama harus terus juga ditingkatkan. Semakin harmonis hubungan antaragama yang ditunjukkan melalui kerja sama para aktivis lingkungan akan semakin mudah bagi kita untuk mengedukasi dan menginspirasi umat masing-masing,” paparnya.

Salah satu faktor penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik adalah kebijakan pemerintah dan menyiapkan generasi muda yang lebih sadar lingkungan.

Untuk Pemerintah Indonesia, Nana mengharapkan dilakukannya beberapa tindakan nyata seperti (1) Revisi total UU yang melegitimasi energi kotor dan penghancuran HAM seperti UU Cipta Kerja dan UU Minerba, (2) Komitmen untuk hentikan penambangan batu bara dan membangun PLTU, (3) Terobosan penggunaan energi bersih dan terbarukan dari sisi policy dan financing, (4) Menghentikan izin pemanfaatan industri yang menyebabkan deforestasi, (5) Menghentikan pengalihan hutan menjadi perkebunan monokultur seperti kelapa sawit, (6) Berikan hak masyarakat adat untuk mengelola hutan dan laut secara lestari, bukan kepada pengusaha yang hanya merusak masa depan bangsa, (7) Stop impor pangan dan (8) Kampanyekan diversifikasi pangan dan mempopulerkan pangan-pangan lokal sesuai budaya masing-masing wilayah.

Sementara untuk menyiapkan generasi muda yang lebih peduli lingkungan, Nana melihatnya harus dimulai dari rumah. “Orang tua harus mendidik mereka agar tidak membuat kerusakan di muka bumi dan berjalan dengan lemah lembut selama hidup di dunia (QS 25: 63),” katanya. “Tanamkan juga nilai-nilai bahwa bumi ini adalah masjid sehingga merawat bumi harus seperti merawat masjid.”

Adapun program nyata untuk menumbuhkan kepedulian pada generasi muda itu adalah dengan mengajari mereka menanam dan merawat tumbuhan di rumah juga untuk memelihara hewan. “Ini akan melatih tanggung jawab anak-anak mencintai alam sehingga mereka paham konsep alam sebagai ayat-ayat Allah—ayat-ayat kauniyah—sehingga ketika ada spesies yang punah akibat perilaku manusia itu sama halnya dengan menghapus ayat di dalam Al Qur’an,” katanya.

Dalam COP26—nama populer dari UN Climate Change Conference–di Glasgow, Skotlandia, November 2021, Nana Firman ikut hadir sebagai Senior Ambassador GreenFaith. “80% penduduk dunia mengaku beragama ( people of faith). Semua agama mengajarkan agar kita peduli kepada kelestarian planet, kepada penciptaan dan kepada manusia sebagai sesama makhluk Tuhan. Boleh dibilang selama ini kita belum mendiskusikan masalah lingkungan dari perspektif ini,” katanya. “Karena itulah pentingnya GreenFaith hadir di sini agar suara kami juga didengar.”

Dengan kesibukan global seperti itu tak mengherankan jika kawan-kawannya menjuluki Nana sebagai Ratu Hijau (“The Green
Queen”). “Akibatnya suami saya yang mantan marinir AS itupun lebih concern dengan isu lingkungan hidup sejak menikah dengan saya. Teman-temannya sampai meledek,‘Pantas saja karena he is married with a Green Queen,” ungkap Nana tergelak.

Kini kisah hidup Nana Firman–bersama 19 Environmental Defenders (Pejuang Lingkungan Hidup) berbagai kebangsaan lainnya–diabadikan dalam buku berjudul One Earth: People of Color Protecting Our Planet (2020). Ini buku anak-anak yang sangat inspiratif dan ilustratif karya Anuradha S. Rao yang juga salah seorang aktivis lingkungan hidup terkemuka. “Memang buku ini dibuat dalam format menarik dan mudah dibaca bagi anak-anak karena Rao ingin semakin banyak anak-anak di seluruh dunia terinspirasi untuk menjadi pejuang lingkungan hidup terlepas dari apapun latar belakang etnis, keyakinan dan jenis kelamin mereka,” ujar Nana.

Nah, Anda para orang tua muda yang berbahagia dengan anak-anak lucu, atau Anda para orang tua sepuh yang sudah punya cucu, lengkapi perpustakaan keluarga di rumah dengan buku karya Anuradha Rao itu agar semakin banyak Nana Firman berikutnya dari Indonesia di masa depan. Para “Green King-Green Queen” yang akan membuat kelestarian dan keharmonisan lingkungan hidup kian terjamin.

21.04.22
(19 Ramadhan 1443 H)
@akmalbasral
Penulis 24 buku. Penerima penghargaan National Writer’s Award 2021 dari Perkumpulan Penulis Nasional Satupena.

RizqiThe Green Queen Nana Firman yang Rajin
read more

Keluar Perusahaan Multinasional, Bangun Bisnis Bebas Waktu Keluarga & Ibadah

No comments

Bogor, 6 April 2022 / 4 Ramadhan 1443. Adalah alumni Tazkia bernama Aswandi, S.Akun. Menyelesaikan studi 2015 lalu dengan predikat mahasiswa terbaik Tahfidz dan lulus dengan predikat summa cumlaude. Serta berhak mendapatkan laptop tidak membuat Aswandi jumawa, justru laptop yang didapat menjadi aset untuk mendalami dunia bisnis digital marketing. Meskipun tidak lama setelah lulus beliau mendapat kesempatan kerja sebagai konsultan ERP ORACLE EBS di sebuah perusahaan IT di Jakarta, kesempatan kerja tersebut justru dimanfaatkan untuk semakin memahami dunia digital dan potensi nya. Di sela waktu kerja, beliau mendalami digital marketing dan melakukan berbagai trial and eror dalam praktik bisnis digital marketing yang dijalaninya.

Tidak kurang selepas tiga tahun mencicipi dunia profesional dan memiliki bekal yang cukup dalam mengembangkan bisnis digital marketing, lebih kurang tahun 2018, Aswandi memilih resign dan fokus dalam bisnis digital marketing bersama adik dan beberapa orang tim yang dibinanya. Alumni Pesantren Ibnu Siena, Asyifa & Ma’had Al Quran Wal Qiraat ini tidak ragu untuk mengikuti pelatihan berbayar hingga jutaan rupiah. “Bagi pemula, sangat dibutuhkan mentor serta circel yang mampu mendukung pengembangan bisnis digital marketing nya, dan itu ada dengan mengorbankan beberapa rupiah agar mendapat mentor dan circel yang dibutuhkan” ujar Aswandi menjelaskan betapa pengorbanan di awal itu penting untuk masuk dalam akses mentor yang mampu membimbing serta circle atau lingkaran yang dapat mendukung Bisnis digital marketing lebih berkembang di kemudian hari.

Kini Aswandi telah memiliki 15 tim yang dibina dan mensuport bisnis beliau. Masa Ramadhan menjadi masa panen bagi produk yang digeluti Aswandi; kurma & madu. Hari demi hari puluhan bahkan ratusan pesanan terus berdatangan seiring semakin baiknya pemahaman bisnis digital marketing, akses serta pengalaman yang telah digeluti selama ini. Beliau juga terbuka bagi siapapun yang ingin belajar asal serius dan mau sepenuhnya mengikuti arahan sebaik mungkin, karena tidak ada kesuksesan kecuali bagi orang yang memiliki determinasi atau kesungguhan serta ketulusan mengikuti mentor yang mengajarkannya. Hasilnya seperti Aswandi, akan ada satu momen, kebebasan waktu untuk keluarga dan ibadah dapat dimiliki tanpa harus lelah macet, habis waktu di kantor berjam-jam dan keluarga hanya memiliki waktu penat dan sisa dari kelelahan kerja kita.

RizqiKeluar Perusahaan Multinasional, Bangun Bisnis Bebas Waktu Keluarga & Ibadah
read more

Spiritualitas Pembangunan Ekonomi

No comments

Oleh : Aam Selamet Rusydiana (Alumni Tazkia, Direktur Smart Indonesia) 

A. Pendahuluan

Sebelum terjadinya krisis multi dimensi pada tahun 1997 yang dampaknya masih terasa hingga kini, para pakar ekonomi kapitalis yakin bahwa dengan pertumbuhan ekonomi akan memperbesar kue ekonomi, sehingga setiap orang akan memperoleh lebih banyak bagian. Pertambahan Produk Domestik Bruto bagi suatu negara atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) bagi suatu wilayah daerah diyakini sebagai pertambahan kekayaan dan kesejahteraan masyarakat. Menurut David C. Korten (2002), usaha yang tidak henti-hentinya dalam mengejar pertumbuhan ekonomi telah mempercepat kehancuran sistem pendukung kehidupan yang ada di planet ini, memperhebat persaingan dalam memperebutkan sumber daya, memperlebar jurang antara yang kaya dan yang miskin, dan menggerogoti nilai-nilai dalam hubungan keluarga dan masyarakat.

Semakin terpusatnya kekuasaan yang semakin hebat di tangan korporasi global dan lembaga-lembaga keuangan telah melucuti pemerintah dari kemampuannya untuk menempatkan prioritas ekonomi, sosial dan lingkungan dalam kerangka kepentingan umum yang lebih luas. PDB (PDRB) merupakan sebuah petunjuk nilai pasar secara kasar dari transaksi uang terhadap barang dan jasa pada suatu bangsa atau regional. Sedangkan kerja produktif yang dilakukan untuk diri sendiri tidak diperhitungkan, meskipun bermanfaat bagi kesejahteraan. Namun sebaliknya, transaksi yang paling merugikan pun malahan dimasukkan selama diperhitungkan dengan uang. PDB (PDRB) sama sekali tidak memperhatikan terkurasnya modal hidup, jumlah keseluruhan modal manusia, sosial dan kelembagaan dalam memperbaharui diri, yang berfungsi sebagai fondasi kehidupan dan peradaban. Ketika hutan dibabat habis atau laut dikuras habis, maka penjualan kayu atau ikan dihitung sebagai tambahan kekayaan, tetapi perubahan yang diperlukan terhadap potensi produktif dan eko-sistem yang hilang akibat eksploitasi tersebut tidak diperhitungkan.

Hal yang sama juga terjadi pada saat minyak bumi dan sumber mineral lain yang tidak dapat diperbaharui ditambang, biaya mengeluarkannya diperhitungkan sebagai tambahan PDB (PDRB), tetapi tidak ada yang dikurangi akibat terkurasnya modal fisik alami yang tersedia. Jadi, dengan demikian, mungkin sekali dengan ukuran seorang Ekonom, ekonomi suatu negara atau wilayah daerah dianggap tumbuh dengan cepat sekali di saat negara atau wilayah tersebut sedang menderita erosi yang parah dari potensi produktifnya serta kesejahteraan para masyarakatnya di masa depan. Untuk mengetahui kemakmuran perekonomian suatu negara atau wilayah daerah, kemudian para Ekonom membagi angka PDB (PDRB) dengan jumlah penduduk, yang disebut dengan PDB (PDRB) per Kapita. Sebuah wilayah yang mempunyai PDRB per Kapita yang tinggi akan dianggap sebagai sebuah wilayah yang makmur dan mempunyai tingkat kesejahteraan ekonomi yang tinggi terlepas apakah terdistribusi secara seimbang ataupun terdapat kesenjangan yang tinggi antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lainnya.

B. Pertumbuhan dan Keadilan Ekonomi

Menurut Chapra (2000), setiap perekonomian dapat dikatakan telah mencapai efisiensi yang optimal apabila telah menggunakan seluruh potensi sumber daya manusia dan materi yang terbatas sedemikian rupa sehingga kuantitas barang dan jasa maksimum yang dapat memuaskan kebutuhan telah dihasilkan dengan tingkat stabilitas ekonomi yang baik dan tingkat pertumbuhan berkesinambungan di masa yang akan datang. Pengujian efisiensi tersebut terletak pada ketidak-mampuannya untuk mencapai hasil yang lebih dapat diterima secara sosial tanpa menimbulkan ketidakseimbangan makro ekonomi dan sosial yang berkepanjangan, atau merusak keserasian keluarga dan sosial atau tatanan moral dari masyarakat.

Suatu perekonomian dapat dikatakan telah mencapai keadilan yang optimal apabila barang dan jasa yang dihasilkan didistribusikan sedemikian rupa. Sehingga, kebutuhan semua individu memuaskan secara memadai. Di samping itu juga terdapat distribusi pendapatan dan kekayaan yang adil, tanpa menimbulkan pengaruh buruk terhadap motivasi untuk bekerja, menabung, berinvestasi dan melakukan usaha.Keadilan akan membawa kepada efisiensi dan pertumbuhan yang lebih besar. Keadilan dicapai bukan saja dengan meningkatkan kedamaian dan solidaritas sosial, tetapi juga dengan meningkatkan insentif bagi upaya dan inovasi yang lebih besar. Para Ekonom, sebelumnya berpandangan bahwa apabila pertumbuhan dapat diakselerasi, mekanisme trickle-down pada akhirnya akan menyelesaikan permasalahan kemiskinan dan distribusi pendapatan.Menurut mereka, redistribusi pendapatan yang menguntungkan orang miskin kemungkinan tidak akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam arti output per kapita yang lebih besar.

Keadilan menurut Qardhawi (1994) adalah keseimbangan antara berbagai potensi individu baik moral ataupun material, antara individu dengan komunitas (masyarakat), antara komunitas dengan komunitas. Keadilan tidak berarti kesamaan secara mutlak karena menyamakan antara dua hal yang berbeda seperti membedakan antara dua hal yang sama. Kedua tindakan tersebut tidak dapat dikatakan keadilan, apalagi persamaan secara mutlak adalah suatu hal yang mustahil karena bertentangan dengan tabiat manusia. Dengan demikian, keadilan adalah menyamakan dua hal yang sama sesuai dengan batas-batas persamaan dan kemiripan kondisi antar keduanya, atau membedakan antara dua hal yang berbeda sesuai batas-batas perbedaan dan keterpautan kondisi antar keduanya.Arti keadilan dalam ekonomi adalah persamaan dalam kesempatan dan sarana, serta mengakui perbedaan kemampuan dalam memanfaatkan kesempatan dan sarana yang disediakan.

Oleh sebab itu, tidak boleh ada seorang pun yang tidak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan yang memungkin-kannya untuk melaksanakan salah satu kewajibannya. Juga tidak boleh ada seorang pun yang tidak mendapatkan sarana yang akan dipergunakan untuk mecapai kesempatan tersebut. Untuk mewujudkan kesejahteraan ekonomi yang berkeadilan harus ada suatu sistem pasar yang sehat. Pasar itu sebenarnya adalah sebuah mekanisme yang canggih, namun gampang dirusak, untuk menata kehidupan ekonomi, sehingga setiap pribadi memberikan sumbangannya bagi keseluruhan dan juga memenuhi kebutuhannnya sendiri dengan kebebasan penuh untuk melakukan pilihan pribadinya.

C. Konsep Pasar yang Sehat

Pasar yang sehat menggalakkan keragaman, prakarsa dan kreativitas pribadi, dan upaya-upaya yang produktif (Korten, 2002). Pasar yang sehat sangat tergantung pada kesadaran para pesertanya, sehingga harus ada persyaratan agar masyarakat umum menjatuhkan sanksi terhadap orang yang tidak menghormati hak dan kebutuhan orang lain, serta mengekang secara sukarela dorongan pribadi mereka untuk melampaui batas. Apabila tidak ada suatu budaya etika dan aturan-aturan publik yang memadai, maka pasar gampang sekali dirusak. Pasar yang sehat, tidak berfungsi dengan paham individualisme ekstrem dan kerakusan kapitalisme yang semena-mena, dan juga tidak berfungsi lewat penindasan oleh hierarki dan yang tidak mementingkan diri sama sekali, seperti dalam komunisme. Kedua faham tersebut merupakan penyakit yang amat parah.Sistem Kapitalisme telah memberikan kepada individu kebebasan yang luar biasa, mengalahkan masyarakat dan kepentingan sosial, baik material maupun spiritual (Laissez Faire Laissez Fasser).

Sebaliknya, sistem komunisme merampas dari individu segala yang telah diberikan oleh sistem kapitalisme, sehingga individu menjadi kurus, kusut, kehilangan motivasi dan kepribadian. Kesemuanya itu dirampas dan kemudian diberikan kepada sesuatu yang disebut ?masyarakat?, yang tercermin dalam ?Negara?. Negara menjadi gemuk dan berkuasa penuh. Padahal ia tidak lain adalah alat yang terdiri atas sejumlah individu. Akhirnya sekelompok kecil orang menjadi gemuk dan berkuasa di atas penderitaan orang lain, yang nota bene mayoritas dari masyarakat (Qardhawi, 1995).

Oleh karena itu, perlu dicari sebuah solusi dalam Ekonomi yang dapat merealisasikan keadilan antara hak-hak individu dengan hak-hak kolektif suatu masyarakat. Pada saat ini, para ahli Ekonomi menggali kembali sistem ekonomi Islam yang pernah berjaya sebelum abad pertengahan. Ruh sistem ekonomi Islam adalah keseimbangan (pertengahan) yang adil. Ciri khas keseimbangan ini tercermin antara individu dan masyarakat sebagaimana ditegakkannya dalam berbagai pasangan lainnya, yaitu dunia dan akhirat, jasmani dan ruhani, akal dan nurani, idealisme dan fakta, dan pasangan-pasangan lainnya yang disebutkan di dalam kitab Al Quran. Sistem Ekonomi Islam tidak menganiaya masyarakat, terutama masyarakat lemah, seperti yang dilakukan oleh sistem kapitalis.

Juga tidak menganiaya hak-hak kebebasan individu, seperti yang dilakukan oleh komunis, terutama Marxisme. Akan tetapi, keseimbangan di antara keduanya, tidak menyia-nyiakan, dan tidak berlebih-lebihan, tidak melampaui batas dan tidak pula merugikan.Guna mencapai keseimbangan tersebut, dibutuhkan adanya lingkungan yang baik dan sadar secara moral yang dapat membantu reformasi unsur manusia di pasar berlandaskan sebuah keimanan. Dengan demikian akan melengkapi sistem harga di dalam memaksimalkan efisiensi maupun keadilan pada penggunaan sumber daya manusia dan sumber daya materi lainnya.

Namun, sangat sulit, untuk mengasumsikan bahwa semua individu akan sadar secara moral kepada masyarakat, dan keimanan saja tidak akan mampu menghilangkan ketidakadilan sistem pasar, sehingga negara juga harus memainkan peran komplementer (Chapra, 2000). Negara harus melakukannya dengan cara-cara yang tidak mengekang kebebasan dan inisiatif sektor swasta berlandaskan kerangka hukum yang dipikirkan dengan baik, bersama dengan insentif dan hukuman yang tepat, check and balance untuk memperkuat basis moral masyarakat dan menciptakan sebuah lingkungan yang kondusif.

D. Penutup

Oleh karena itu, telah dirasakan bahwa sistem ekonomi kapitalis sekuler yang membedakan antara kesejahteraan material dengan masalah ruhaniah banyak membawa masalah dalam distribusi kesejahteraan yang adil dan seimbang di antara masyarakat. Dengan demikian, sebagaimana yang dikemukakan oleh Fukuyama (1995), bahwa perlu disadari, kehidupan ekonomi tertanam secara mendalam pada kehidupan sosial dan tidak bisa dipahami terpisah dari adat, moral, dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat di mana proses ekonomi itu terjadi. Sehingga, membahas pembangunan ekonomi di Indonesia dengan memasukkan nilai-nilai Islam bukan suatu hal yang irrelevant.

Source :

https://aamslametrusydiana.blogspot.com/2010/12/spiritualitas-pembangunan-ekonomi.html?m=0

(Ditulis bersama Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec, Chairman of Tazkia Islamic Business School)

 

RizqiSpiritualitas Pembangunan Ekonomi
read more

Batalnya Puasa Bagi yang Melanjutkan Makan Saat Adzan Subuh

No comments

Oleh : Abdul Wahid Al-Faizin (Alumni S1 Tazkia, Ketua Komisi Fatwa MUI Surabaya)

Yang perlu kita sepakati di awal adalah waktu puasa dimulai ketika terbitnya fajar shadiq bukan adzan Subuh karena adzan Subuh bisa jadi lebih awal atau lebih akhir dari fajar tersebut. Karena bisa jadi Muadzdzin telat atau adzan terlalu awal dari jadwal waktu terbitnya fajar. Hal ini berdasarkan ayat

… وَكُلُوا۟ وَٱشۡرَبُوا۟ حَتَّىٰ یَتَبَیَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَیۡطُ ٱلۡأَبۡیَضُ مِنَ ٱلۡخَیۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِۖ ثُمَّ أَتِمُّوا۟ ٱلصِّیَامَ إِلَى ٱلَّیۡلِۚ …

“… Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam…” (QS. Al-Baqarah, Ayat 187)

Berdasarkan hal tersebut orang yang sedang makan atau minum kemudian terbit fajar, maka dia wajib menghentikan makan dan minumnya. Jika tidak maka ulama’ sepakat puasanya batal. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh imam Nawawi

ذَكَرْنَا أَنَّ مَنْ طَلَعَ الْفَجْرُ وَفِي فِيهِ طَعَامٌ فَلْيَلْفِظْهُ وَيُتِمَّ صَوْمُهُ فَإِنْ ابْتَلَعَهُ بَعْدَ عِلْمِهِ بِالْفَجْرِ بَطَلَ صَوْمُهُ وَهَذَا لَا خِلَافَ فِيهِ

[النووي، المجموع شرح المهذب، ٣١١/٦]

“Telah kami sebutkan bahwa orang yang di dalam mulutnya ada makanan sedang fajar telah terbit, maka dia harus mengeluarkan makanan tersebut dan menyempurnakan puasanya. Jika dia menelan makanan tersebut setelah tahu bahwa fajar telah terbit, maka puasanya batal. Ini adalah hukum yang tidak ada perbedaan ulama’ di dalamnya”.

Lalu bagaimana dengan hadits yang sering digunakan oleh para ustadz yang menyatakan tidak batal meneruskan makan setelah adzan Subuh berikut ini?

إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمْ النِّدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ

“Kalau salah seorang diantara kamu semua mendengarkan azan, sementara gelas berada ditangannya. Jangan ditaruhnya sampai menyelesaikan keperluannya.” (HR. Abu Dawud no. 2350)

Untuk memahami sebuah hadits kita tidak bisa memahaminya secara mandiri tapi harus difahami dengan hadits lain yang senada. Hal ini sebagimana ditegaskan oleh Al-Khaththabi sebagaimana dinukil oleh Imam Suyuthi

قال الخطابي: هذا على قوله: “إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ”.

[الجَلَال السُّيُوطي، مرقاة الصعود إلى سنن أبي داود، ٦٠٣/٢]

“Al-Khaththabi berkata: hadits tersebut harus diarahkan pada hadits “Sesungguhnya Bilal itu adzan di malam hari, maka makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan.” (HR. Muslim no. 1829)

Senada dengan al-Khaththabi pensyarah Sunan Abu Dawud lainnya juga menegaskan maksud hadits tersebut dengan menyatakan

أى الأذان الأول للصبح وهو أذان بلال فإنه كان يؤذن قبل طلوع الفجر ليرجع القائم ويتنبه النائم كما تقدم

[السبكي، محمود خطاب، المنهل العذب المورود شرح سنن أبي داود، ٧٣/١٠]

“Yang dimaksud adzan dalam hadits tersebut adalah adzan pertama yaitu adzannya Bilal. Karena sesungguhnya Bilal melakukan adzan sebelum terbitnya fajar agar orang yang ibadah malam pulang dan orang yang tidur terjaga”

Pertanyaan mendasarnya adalah adzan di Indonesia itu apakah adzan pertama seperti Bilal atau adzan penanda terbitnya fajar yang menjadi tanda masuknya waktu subuh? Tentu kita sepakat jawabannya adalah adzah penanda fajar dan masuknya waktu subuh. Dengan begitu melanjutkan makan dan minum setelah adzan berkumandang menyebabkan puasa batal sebagaimana kesepakatan ulama’ yang disebutkan oleh imam Nawawi.

Lalu bagaimana hukum makan dan minum pada waktu imsak? Untuk menjawab ini kita harus menggunakan pendekatan ilmu Falak. Karena sekarang kita tidak melihat langsung fajar shadiq untuk mengetahui waktu shubuh namun menggunakan jam dan melihat kalender yang merupakan produk ilmu falak.

Dalam perhitungan waktu shalat ulama’ falak akan menambah beberapa menit dari hasil perhitungan mereka sebagai bentuk kehati-hatian. Standar kehati-hatian ini berbeda-beda ada yang 1, 2, 3 atau bahkan 5 menit. Sebagai contoh aplikasi Digital Falak, pembuatnya menggunakan standar kehati-hatian 3 menit. Sebagai contoh pada hari ini 7 Mei 2020 waktu shubuh di aplikasi Digital Falak adalah 04.15. Hal ini artinya pada hakikatnya secara perhitungan waktu Subuh (terbitnya fajar) adalah 04.12 namun ditulis lebih 3 menit menjadi 04.15 sebagai bentuk kehati-hatian.

Berdasarkan hal tersebut kalau kita makan pada pukul 04.12 (masih imsak) secara perhitungan Falak sebenarnya kita makan saat fajar shadiq sudah keluar (masuk waktu subuh). Hal ini bisa beresiko puasa kita batal. Oleh karena itulah pada saat waktu imsak kita dianjurkan untuk tidak makan dan minum sebagai bentuk kehati-hatian. Adanya jarak antara makan sahur dengan subuh ini juga dijelaskan dalam hadits shahih berikut

 «تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ»، قُلْتُ: كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُورِ؟ ” قَالَ: «قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً»

“Kami makan Sahur bersama Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- kemudian beliau berdiri untuk shalat. Aku (Anas bin Malik) bertanya : Berapa kadar waktu antara adzan dan (selesai) makan sahur ? Dia menjawab : Sekitar lima puluh ayat”. (HR. Bukhari : 1921).

Berdasarkan hadits tersebut imam Nawawi menegaskan

وَفِيهِ الْحَثُّ عَلَى تَأْخِيرِ السُّحُورِ إِلَى قُبَيْلِ الْفَجْرِ

[النووي، شرح النووي على مسلم، ٢٠٨/٧]

“Dalam hadits ini terdapat anjuran mengakhirkan sahur sampai mendekati fajar (muncul)”

Bahkan imam Ramli yang menulis Hasyiyah atas kitab Asnal Mathalib menegaskan

وَالسُّنَّةُ أَنْ يَكُونَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْفَجْرِ قَدْرَ خَمْسِينَ آيَةً

[الأنصاري، زكريا، أسنى المطالب في شرح روض الطالب، ٤٢٠/١]

“Yang sunnah jarak antara sahur dan fajar (subuh) adalah perkiraan 50 ayat”

Sumber :

https://www.facebook.com/566597109/posts/10158004064372110/

RizqiBatalnya Puasa Bagi yang Melanjutkan Makan Saat Adzan Subuh
read more

Cucurak & Kumpul Alumni Pasca Bersama Rektor & Ketua Alumni

No comments

Bogor, 27 Maret 2022 / 25 Sya’ban 1443 H. Alumni pascasarjana bersama Rektor dan ketua alumni adakan kumpul bersama di salah satu resto alumni Saung Bambu Riung yang berlokasi di daerah CIbinong, Bogor. Hadir dalam kesempatan ini, Rektor IAI Tazkia Ibu Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc., CFP. dan Ketua Alumni Bapak Nurizal Ismail, MA. menemani juga menyimak masukan para alumni pasca IAI Tazkia. Tidak hanya Rektor dan Ketua Alumni, para alumni pasca sarjana yang hadir pun menyampaikan ide-ide positif untuk penguatan sinergi alumni pascasarjana Tazkia ke depan khususnya, dan Alumni IAI Tazkia umumnya.

Agenda berjalan akrab, dengan suasana resto yang nyaman, ditemani hidangan yang ni’mat, para alumni asik berdiskusi sambil menikmati hidangan yang disediakan. “Alumni pascasarjana yang berjumlah lebih dari 200 orang, sudah waktunya untuk diperkuat lagi pemetaan alumni, dan diperkuat lagi sinergi antar alumni” ujar bu rektor menyampaikan potensi alumni tazkia yang ada. “Ikatan alumni tazkia berencana mengadakan agenda rill untuk alumni dengan dibuatkan resume tesis dan alumni pasca dapat mengisi pada agenda ramadhan sesi kultum menjelang berbuka di tazkia tv” masukan dari pak nurizal selaku ketua alumni pasca agar pasca mulai eksis dengan distingsi komptensi masing-masing. Tidak hanya dari rektor dan ketua alumni, para alumni pasca pun menyampaikan betapa potensi pasca dapat memberikan manfaat yang luas untuk lingkaran alumni pasca juga masyarakat luas yang masih butuh banyak edukasi ekonomi syariah.

Selain alumni pasca, rektor, dan ketua alumni, hadir juga di akhir sesi bapak Dr. Mukhlis Yusuf, Bapak Dr. Achmad Firdaus, serta Bapak Dr. Zulkarnain M. Ali menyapa para alumni dan menambah suasana keakraban dalam diskusi yang berjalan. Kehadiran para pimpinan menjadi motivasi bagi para alumni untuk lebih mengkokohkan lagi sinergi antar alumni, agar semakin besar manfaat antar alumni, dan kontribusi bagi masyarakat, khususnya dalam pengembangan ekonomi syariah

RizqiCucurak & Kumpul Alumni Pasca Bersama Rektor & Ketua Alumni
read more

Kajian Bulanan Alumni Tazkia, Sesi pererat ukhuwah antar alumni

No comments

Jum’at, 18 Februari 2022 / 17 Rajab 1443 H. Divisi Alumni IAI Tazkia bekerjasama dengan Ikatan Alumni Tazkia ( IKA Tazkia ) mengadakan agenda kajian bulanan alumni inspiratif. Kajian kali ini mengundang Kk Pupun Sapul Rohman, M.E.Sy. selaku alumni S1 & S2 IAI Tazkia juga Dosen Polbim Tasikmalaya serta aktif berdakwah dari Masjid ke masjid tentang ekonomi syariah. Mengambil tema “Masyarakat Buta Ekonomi Syariah. Tanggung jawab siapa?” Kajian ini bertujuan untuk menginspirasi alumni Tazkia khusus nya serta umat Islam umumnya untuk lebih peduli lagi mengisi materi Ekonomi Syariah di berbagai lapisan masyarakat yang masih banyak membutuhkan edukasi ekonomi syariah.

Pengalaman kk pupun dalam berdakwah menjadi bekal istimewa bagi siapapun agar juga ikut serta dalam program yang menyentuh masyarakat ini. Strategi penyampaian pun disesuaikan dengan kenyataan di lapangan sesuai audiens yang dihadapi. Tidak jarang bahasa lokal menjadi pendekatan yang digunakan untuk menyentuh kedekatan audiens yang mendengar penyampaian.

Diskusi dalam forum zoom berlangsung hangat dengan sapaan silaturahmi kangen antar alumni juga penyampaian fakta dan pengalaman di masyarakat terkait pemahaman yang kurang tentang praktik riba. Terlebih tantangan dari kalangan apatis yang tidak menerima alasan apapun atas kenyataan haramnya transaksi yang selama ini mereka jalankan.

Di akhir sesi, agenda diisi dengan pengumuman terkait program alumni yang sedang digalakkan, mulai dari kajian bulanan, santunan, serta pengembangan endowment fund yang dikelola koperasi Tazkia. Agenda kajian dan silaturahmi ini merupakan salah satu ikhtiar ikatan alumni untuk semakin aktif merangkul semua alumni untuk semakin kompak dan dukung satu sama lainnya.

RizqiKajian Bulanan Alumni Tazkia, Sesi pererat ukhuwah antar alumni
read more

Distorsi Distribusi Harta

No comments

Oleh : Atep Firmansyah (Alumni IAI Tazkia)

Akhir-akhir ini kita semua tersentak mendengar dan membaca berbagai pemberitaan di media massa tentang Indonesia yang konon katanya sebagai negara penghasil beras, ‘lumbung padi’ yang cukup besar. Negara dengan kekayaan alam yang sangat melimpah, ditambah dengan predikat sebagai negara dengan jumlah populasi muslim terbesar di dunia, kini sebagian rakyatnya ternyata masih banyak yang mengalami kekurangan gizi ‘malnutrisi’ atau busung lapar.

Sebuah paradoks memang. Namun hal ini setidaknya menggambarkan kepada kita bahwa selama ini kekayaan atau harta yang ada masih terkonsentrasi pada sebagian orang kaya saja. Dengan kata lain telah terjadi distorsi distribusi pada harta. Persaudaraan dan kasih sayang masih hanya sebagai wacana publik belaka tanpa realisasi. Jiwa-jiwa Umar bin Khattab yang selalu berkeliling melakukan ronda malam guna memastikan seluruh rakyatnya tidur dalam keadaan sudah terpenuhinya hak mereka dan dengan rela memanggul sendiri gandum ketika didapati ada rakyatnya yang belum makan, sepertinya belum tertanam dan terbentuk pada spirit penguasa sang pemegang amanah di negeri ini.

Tidak diragukan lagi bahwa busung lapar, malnutrisi, atau apapun namanya adalah akibat dari kemiskinan di mana masyarakat tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) mereka sendiri karena daya beli yang mereka miliki sangat rendah.

Lantas sebagai saudara mereka, apakah kita akan selamanya diam, hanya mencela dan menyalahkan ini semua pada kemalasan mereka sehingga mereka miskin? Atau kita menyalahkan sepenuhnya pada para tetangga sekitar yang tak acuh atas nama dogma agama yang memang telah memvonis mereka (tetangga yang tak acuh pada kemiskinan tetangganya) sebagai orang-orang yang belum sempurna keimanannya tanpa adanya tindakan nyata dari kita sendiri? Ataukah kita hanya bisa mencibir pemerintah yang menyatakan penyakit ini sebagai kejadian luar biasa?

Tidak salah jika agama Islam telah memperingatkan umatnya agar harta kekayaan jangan hanya beredar pada sebagian orang kaya saja. Karena memang beragam permasalahan sosial maupun ekonomi berpangkal dari tidak lancarnya distribusi harta ini. Salah satunya adalah problematika merebaknya penyakit busung lapar ini. Itulah mengapa prinsip distribusi kekayaan dalam ekonomi Islam adalah pemerataan pendapatan walaupun bukan berarti mesti sama rata. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran surat al-Hasyr ayat 7 yang artinya: “Supaya harta itu jangan hanya beredar pada sebagian orang kaya di antara kalian”.

Salah satu upaya Islam dalam pemerataan pendapatan adalah dengan adanya ajaran zakat. Di mana dalam harta kekayaan si kaya terdapat hak yang harus ditunaikan kepada fakir miskin dan beberapa golongan yang berhak menerimanya. Dengan adanya zakat (yang diambil dari golongan kaya dan dibagikan kepada orang-orang miskin) diharapkan tidak hanya dapat membersihkan harta dan jiwa muzakki dari sifat kikir dan terlalu cinta dunia serta membersihkan si mustahik dari sifat iri, dengki atas kekayaan saudaranya, tetapi juga mampu memberikan pengaruh secara ekonomi. Mengapa? Karena dengan lancarnya skema dan syariat zakat, akan menambah pendapatan masyarakat sehingga apa yang dinamakan dalam istilah ekonomi dengan MPC (marginal propensity to consume) atau ’tambahan alokasi pendapatan untuk konsumsi’ masyarakat miskin akan meningkat pula. Implikasinya, daya beli masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar dengan sendirinya akan meningkat. Bukankah dengan satu ajaran saja Islam telah memberikan solusi yang tepat dan efektif?

Namun kenyataan menunjukkan bahwa belum sepenuhnya masyarakat muslim sadar akan kewajiban zakat. Meninggalkan kewajiban ini tidak membuat perasaannya bersalah dan tidak tenang sebagaimana ketika dia meninggalkan shalat. Padahal kedudukan antara keduanya adalah sama. Banyak ayat Alquran yang menggandengkan dua kewajiban ini dalam satu paket ayat. Oleh karena itulah, khalifah Abu Bakar Shiddiq sangat keras kepada orang yang tidak mau membayar zakat. Seperti tercermin dalam pernyataannya: “Demi Allah aku tidak akan memisahkan sesuatu yang telah Allah dan Rasulnya satukan” (maksudnya zakat dan shalat).

Busung lapar merupakan fenomena yang ditimbulkan oleh rendahnya daya beli masyarakat tertentu sebagai akibat adanya ketimpangan ekonomi sehingga dalam sistem pasar bebas –pasar yang dibentuk berdasarkan mekanisme harga yakni melalui jumlah permintaan dan penawaran, kelompok ini akan terpinggirkan karena tidak memiliki daya beli yang memadai.

Untuk mengatasi hal ini selayaknya pemerintah sebagai lembaga yang paling bertanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan dasar (basic needs fulfillment) rakyatnya harus mengupayakan agar daya beli masyarakat terutama pada kebutuhan pokok dapat tetap terjaga sehingga dapat dengan mudah masuk keluar pasar.

Dalam hal ini, khalifah Umar bin Khattab telah mengajarkan kepada kita melalui jejak sirahnya. Beliau pernah mengeluarkan kebijakan untuk mengeluarkan kupon dan membagikannya kepada golongan masyarakat yang ketika itu sebagian masyarakat mengalami tingkat daya beli yang sangat rendah dan tidak mampu membeli kebutuhan pokok. Saat itu terjadi kenaikan harga gandum yang sangat tajam, dan meski Umar telah menerapkan kebijakan impor untuk menurunkan harga, masyarakat tetap tidak mampu untuk membelinya. Akhirnya dikeluarkanlah kebijakan tersebut (menerbitkan kupon) untuk menaikkan daya beli masyarakat miskin. Itulah komitmen seorang Umar bin Khattab, komitmen yang seharusnya dimiliki pula oleh para pemegang amanah kekuasaan dalam hal menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat yang dipimpinnya.

Pemerintah juga dalam hal ini bisa melakukan upaya lewat pasar itu sendiri, sebagaimana yang diusulkan oleh ahli ekonomi Islam Bangladesh, M.A. Mannan. Menurutnya, pemerintah dapat mengenakan zero to ‘N’ pricing untuk barang dan fasilitas publik. Yang dimaksud dengan zero to ‘N’ pricing adalah penerapan harga yang berbeda-beda untuk sasaran konsumen serta jumlah barang dan jasa yang berbeda-beda (Hendrie Anto, 2003). Atau dalam istilah ekonomi konvensional dikenal dengan istilah diskriminasi harga (price discrimination).

Kebijakan ini diterapkan guna mewujudkan komitmen Islam terhadap pemerataan dan keadilan terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan dasar bagi masyarakat miskin ketika disparitas (jurang perbedaan) pendapatan si kaya dan si miskin cenderung lebar dengan menerapkan harga khusus pada barang-barang dan jasa publik yang vital seperti listrik, air, susu bayi, obat-obatan serta kebutuhan pokok lainnya.

Dengan adanya upaya optimalisasi zakat di atas, perhatian pemerintah dalam bentuk kebijakan-kebijakan yang adil, baik langsung ataupun melalui sektor pasar sebagai sarana pemenuhan kebutuhan manusia, diharapkan kasus-kasus yang bertitik tolak dari adanya kemiskinan serta distorsi distribusi dalam harta kekayaan ini dapat diantisipasi dan dicegah kemunculannya kembali di masa mendatang.

Akhirnya, marilah kita semua sebagai umat Islam untuk lebih mencintai saudara kita sebagaimana mencintai diri sendiri. Bukan hanya perkataan namun berupa tindakan nyata yang saudara kita butuhkan. Banyak jalan kebaikan jika memang zakat belum mampu kita tunaikan. Pintu infak, sedekah masih terbuka lebar. Mari kita ubah preferensi konsumsi kita dengan tidak hanya mempertimbangkan want (keinginan) yang cenderung dikuasai nafsu tetapi harus berdasarkan need (kebutuhan) yang benar-benar kita butuhkan sehingga tidak terjerumus dalam lembah tabdzir. Dan hanya kepada Allah lah segala permasalahan dikembalikan. Billahi taufik wal hidayah.

RizqiDistorsi Distribusi Harta
read more